Dedie A. Rachim Sambut Kedatangan Mahkota Binokasih di Kota Bogor

by -65 Views

Kota Bogor – Mahkota Binokasih Sanghyang Paké tiba di Kota Bogor sebagai bagian dari rangkaian Milangkala Tatar Sunda dan napak tilas sejarah Pajajaran yang akan dilaksanakan pada Jumat (8/5/2026).

Setibanya di Bale Pakuan Padjadjaran, delegasi Karaton Sumedang Larang yang membawa Mahkota Binokasih Sanghyang Paké disambut langsung oleh Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim, bersama jajaran Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor.

Dedie A. Rachim mengatakan Mahkota Binokasih Sanghyang Paké merupakan simbol Kerajaan Pajajaran yang dahulu digunakan sebagai mahkota para Raja Sunda.

Mahkota asli yang terbuat dari emas 18,8 karat dengan bobot sekitar delapan kilogram itu menjadi momentum istimewa bagi Kota Bogor karena tidak semua daerah di Jawa Barat mendapat kesempatan disinggahi mahkota bersejarah tersebut.

“Bogor mendapatkan sebuah kesempatan yang istimewa, karena memang kedekatan antara Bogor dengan Sumedang, terlebih lagi dengan kesejarahan dan juga latar belakang bahwa pada saat Kerajaan Pajajaran berpindah ke Sumedang, beberapa artefak, termasuk benda-benda prasasti sejarah, semuanya sekarang ada di Karaton Sumedang Larang,” ujar Dedie A. Rachim, Kamis (7/5/2026).

Ia menambahkan, Mahkota Binokasih menjadi simbol besarnya peradaban Sunda yang memiliki nilai sejarah tinggi.

Berdasarkan hasil penelitian Kementerian Kebudayaan dan Pemerintah Provinsi Jawa Barat, mahkota tersebut disebut berasal dari masa yang sezaman dengan Kerajaan Majapahit.

Karena itu, kirab budaya yang akan digelar pada Jumat malam diharapkan dapat mempererat silaturahmi antarwilayah di Jawa Barat sekaligus memperkuat semangat kebersamaan dalam mendukung Indonesia maju.

Sementara itu, Gumaran Pati Mahapatih Karaton Sumedang Larang, Rd. Lily Jamhur Soemawilaga, menyampaikan apresiasi atas sambutan yang diberikan Kota Bogor kepada delegasi Karaton Sumedang Larang yang mengawal Mahkota Binokasih Sanghyang Paké.

“Ini merupakan sebuah momentum magis. Dengan adanya Kirab Milangkala Tatar Sunda ini, akan muncul fenomena baru, bagaimana keberadaan Mahkota Binokasih Sanghyang Paké bisa kembali mengikat tali kekerabatan di antara kita, bahwa kita merupakan satu saudara,” ujarnya.

Ia berharap kegiatan tersebut dapat menjadi sarana edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat mengenai pentingnya sejarah, budaya, serta kearifan lokal sebagai bagian dari identitas bangsa.

“Jadi, mudah-mudahan ini memberikan dampak keberkahan dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala bagi kita semua,” katanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *